Pages

Tuesday, October 30, 2012

Pertanyaan Hari Ini

Kalimat ini seringnya ditanyakan kepada anak kecil. Janggal rasanya bertanya kepada orang yang sudah dianggap dewasa. Padahal orang dewasa -dan yang dianggap dewasa- pun masih berhak menjawabnya.

"Apa cita-citamu?"


gambar dari sini

Monday, October 29, 2012

Sayyidul Istighfar


Surga. Siapa yang tidak ingin tinggal di sana? Tak ada, sepertinya. Kalaulah ada, mungkin hanya orang-orang yang tak percaya akan keberadaan surga.

Surga. Siapa yang tak tergiur akan janji-janji kenikmatan di dalamnya? Tak ada, kurasa. Kalaulah ada, mungkin hanya orang-orang yang tak pernah mendengar kenikmatan surga. Atau yang tiada iman di dadanya.

Surga. Adalah janji-Nya. Hadiah atas ketaatan di dunia.

Surga. Maukah kau ke sana? Mau? Hmmm... aku belum pernah ke sana. Tapi aku pernah diberi tahu salah satu caranya oleh seorang Ustadz dalam sebuah kajian. Dia membacakan ini.


Tahukah kau? Aku ingin sekali ke surga. Bersamamu. Bersama kalian. Karena itu, aku ingin mengajakmu, mengajak kalian... membacanya di setiap pagi dan menjelang petang dengan penuh kesungguhan. Supaya kelak, pintu surga itu terbuka untuk kita. Lalu penuh keyakinan kita bisa memasukinya, seyakin kita mempercayai janji-Nya melalui rasul-Nya. Janji Allah tentang surga. Yuk...

Thursday, October 25, 2012

Rasa G4 to the L4u, GALAU!!!

Terlalu banyak merasa kadang bisa menyusahkan diri kita sendiri. Tetapi menjadi perasa tetaplah diperlukan untuk membedakan kita sebagai manusia dengan makhluk lainnya. Bisa merasa, adalah anugerah terbesar yang Allah Subhanahu wa Ta'ala berikan pada diri kita. Mudah merasa, adalah sebuah pertanda bahwa sebenarnya hati kita masih memiliki cahaya. Tidak padam, gelap, dan menghitam, yang lama kelamaan beku-membatu-lalu mati. Untuk itu, yang kita butuhkan adalah kemampuan mengelola rasa. Agar rasa itu sendiri tak terlalu menyulitkan kita atau membuat kita berpikir lebih baik tidak merasa.

Salah satu rasa yang suka mengganggu adalah terlalu merasa bersalah. Rasa yang sering muncul ketika tidak bisa memenuhi ekspektasi dari orang lain. Ketika melakukan beberapa kesalahan kecil yang seolah tampak besar dan tentu saja ketika melakukan kesalahan besar itu sendiri. Atau rasa yang sesekali muncul apabila kesempatan yang ada terluput dari hadapan, baik secara sengaja ataupun tidak sengaja. Sehingga terucaplah kata-kata "seandainya-kalau saja-apabila-seharusnya-andaikata-dan kawan-kawannya". Padahal Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda:
 
“Bersemangatlah untuk meraih segala hal yang bermanfaat bagimu. Mintalah pertolongan Alloh dan jangan lemah. Apabila engkau tertimpa sesuatu (yang tidak menyenangkan) janganlah berkata, ‘Seandainya aku dulu berbuat begini niscaya akan menjadi begini dan begitu’ Akan tetapi katakanlah, ‘Qaddarallahu wa maa syaa’a fa’ala, Allah telah menakdirkan, terserah apa yang diputuskan-Nya’. Karena perkataan seandainya dapat membuka celah perbuatan syaitan.” (HR. Muslim)

Kalau sudah dilanda galau -kata anak muda zaman sekarang- karena terlalu merasa bersalah, maka ini dia racikan penawar yang biasanya saya konsumsi, siapa tahu bisa dipraktikkan:

Pertama, berhenti dari segala aktifitas untuk sejenak. 
Kalau masih dipaksain beraktifitas juga biasanya malah jadi merasa serba salah. Oleh karena itu, sebaiknya berhenti beraktifitas dan memberikan waktu sebentar untuk berdamai dengan perasaan sendiri.

Kedua, tilawah Quran.
Kalau pas lagi bawa Al Quran terjemahan, usahakan baca terjemahannya juga. Satu atau dua halaman cukup untuk sedikit menenangkan hati, tapi semakin banyak bacanya insyaAllah hati jadi semakin tenang insyaAllah. Bukankah Allah sendiri yang bilang, dengan banyak mengingat Allah hati akan menjadi tenang? Siapa tahu juga dari ayat-ayat yang kita baca itulah, Allah memberikan petunjuk-Nya. Dan hal inilah yang sering terjadi pada saya. Kalau tidak ada Al Quran terjemah? Tetap baca saja Al Qurannya! InsyaAllah bacaan tersebut akan tetap memberikan pengaruh yang baik pada kita, asal dijaga adab-adab dalam membacanya.

Ketiga, pejamkan mata, tarik nafas dalam-dalam dan mendengar lagunya Edcoustic yang judulnya "Menjadi Dirimu" untuk mengembalikan kepercayaan diri dan optimistis (emang siapa yang minjem yak? :p)
Ini nih liriknya...

Tak seperti bintang di langit
Tak seperti indah pelangi
Karena diriku bukanlah mereka
Ku apa adanya

Wajahku kan memang begini
Sikapku jelas tak sempurna
Kuakui kubukanlah mereka
Ku apa adanya

Menjadi diriku dengan segala kekurangan
Menjadi diriku atas kelebihanku
Terimalah aku seperti apa adanya
Aku hanya insan biasa
Tak mungkin sempurna
Tetap kubangga atas apa yang kupunya
Setiap waktu kunikmati
Anugerah hidup yang kumiliki

Untuk saya pribadi, lirik lagu ini ngena banget makanya lagu ini masuk dalam jajaran lagu favorit versi saya, hehe :D. Ada energi tersendiri di dalam liriknya yang bisa membangkitkan optimistis.
Berbuat kesalahan itu wajar kok, yang tidak wajar adalah kalau kita tidak berniat memperbaiki apa-apa yang salah. Jadi, tidak usah terlalu berlebihan menyesali -entah itu kesalahan atau kekurangan- diri.

Nach, yang keempat...
rumuskan langkah-langkah untuk membuat keadaan lebih baik daaaannn.... ACTION!!!

gambar dari sini

Mengatasi G4L4u yang satu ini? INI CARAKU, APA CARAMU?

Monday, September 24, 2012

Tetangga (kecil) Baruku ^__^

Ia tersenyum malu-malu melihatku. Seakan ingin menyapa tapi tak tahu apa yang hendak dikata. Melihat senyum polosnya, tak kuasa aku abai terhadapnya. Kulambaikan tanganku seraya kuajak ia agar mau menghampiriku, yang belum dikenalnya. Rasa lelah sepulang bekerja pun hilang dalam sekejap saja demi melihat senyum tulusnya. Penasaran, aku tanya siapa namanya. "Aaiis... Aiiiss," tak jelas jawabnya membuatku bertanya ulang, masih tetap sambil melambaikan tangan padanya. Alih-alih menjawab lambaianku, sambil meneriakkan namanya -dengan artikulasi yang belum jelas- ia malah pergi menjauh. Tiga-empat detik berikutnya setelah menjauh, tiba-tiba saja ia menghampiriku dan masuk ke dalam rumah. Melewati aku yang masih ternganga dan sedang berpikir bagaimana cepat sekali pikirannya berubah. Ah ya, dasar kanak-kanak. Senyumku mengembang sempurna.

Namanya Dannis -ternyata- dan ia ceria sekali. Tetangga kecilku yang baru. Rambut ikalnya, sepenuhnya membuatku terpesona. Apalagi bicaranya yang masih belum jelas dan juga... tentu saja senyum polos setiap dia selesai mengucapkan sesuatu. Jika melihat pintu rumahku terbuka, maka tiba-tiba dia akan masuk ke dalam rumah. Melihat-lihat apa yang bisa dijadikan mainan, tersenyum senang. menirukan apa yang didengarnya sambil terbata, dan sekali lagi tersenyum senang. Begitu seterusnya. Kalau dirasanya cukup, maka ia memutuskan keluar, mencari hal lain yang lebih baru. -_______-a

Dua bulan sudah tinggal keluarga kecil kami berpindah, alhamdulillah di lingkungan yang baru ini kami cukup betah. Apalagi kalo si kecil ini bermain ke rumah...


lihatlah gayanya....




How cute he is!!!


Dari si tetangga kecil ini, aku belajar bahwa....

1) Kita harus terus bergerak seperti geraknya yang hampir tak pernah berhenti...^_^
2) Keterbatasan sarana tak akan menghalangi kita untuk bahagia (seperti ekspresi mukanya ketika ia bermain ke rumahku dan tak menemukan mainan barang satupun, tetap dengan senyum cerianya apa saja akan bisa dijadikan mainan olehnya)

Ah ya, anak-anak... dunia yang selalu kurindukan. Karena dari mereka kita selalu bisa belajar banyak tentang kehidupan.

Baiklah, target berikutnya.... anak-anak tetangga yang lain... hehehehe :D     

Friday, August 31, 2012

Menulis. Menulis Lagi. Menulis Terus!

Sudah lama saya tidak menulis, lebih tepatnya tidak bersemangat menulis. Kalaupun menulis, paling hanya tulisan yang pendek-pendek saja. Hmmm... selama rentang waktu tidak bersemangat menulis itu, saya merasakan sebuah perbedaan yang cukup besar. Energi.

Ya, setelah lama tidak menulis rasanya tidak ada energi yang membara seperti sebelumnya. Dulu sewaktu masih rajin menulis, saya merasakan hari-hari saya begitu berenergi, begitu bersemangat, dan... yang paling penting saya tidak mudah putus asa serta tidak mudah mengeluh. Saya rasakan semangat untuk meng-explore hal-hal di sekitar saya menjadi lebih besar. Saya merasa tumbuh dan terus bertumbuh. Ah ya, jujur saya akui saya rindu berat dengan masa-masa itu. Masa-masa di mana saya menggunakan karunia Allah berupa akal pikiran dengan optimal.

Ya, saya rindu. Dan hari inilah, saya baru berani kembali menampakkan (tulisan) diri. Semoga ada di antara tulisan saya yang dapat menjadi perantara hidayah atas makhluk Allah lainnya. Semoga. Semoga. Dan semoga.

Beberapa penyebab mengapa saya malas menulis:
1). Kurang baca buku, dan terutama baca Al Quran (padahal Al Quran adalah inspirasi yang tidak pernah kering);
2). Berekspektasi terlalu tinggi terhadap diri sendiri (penjelasannya seperti ini>>aku pengen nulis tulisan yang super ah.. yang bisa begini begitu, yang isinya ini dan itu.. padahal malesnya setengah hidup -_-");
3). Terlalu merasa cukup dengan amal yang dilakukan;
4). Tidak menyediakan waktu untuk menulis, berdalih terhadap diri sendiri bahwa banyak kesibukan-kesibukan lain di luar menulis.

Dan obat yang ampuh untuk semua itu adalah..... TARAAAA..........
1). Banyak-banyak membaca dan memahami apa yang dibaca, terutama Al Quran+terjemahan, lebih baik lagi kalau tafsirnya juga :)
2). No Males! Harus rajin memaksa diri sendiri untuk rajin (nah lho?!)
3). Tidak merasa cukup untuk melakukan kebaikan. Jadi biarpun sedikit yang ditulis, yang penting membawa pesan kebaikan untuk dibagikan.
4). Menulis sekarang juga!!!

Dari Abu Hurairah radiyallahu 'anhu, Rasulullah sholallahu 'alaihi wassalam bersabda:
"Bersegeralah kalian beramal saleh sebelum kedatangan fitnah (ujian) yang seperti potongan malam. Seseorang di pagi hari dalam keadaan beriman (mukmin) namun di sore harinya menjadi kafir; dan ada orang yang di sore hari dalam keadaan beriman namun di pagi hari menjadi kafir. Dia menjual agamanya dengan perhiasan dunia." (HR. Muslim no.309)


Lalu mengapa (saya) tidak harus bersegera? Agar tak ada post power syndrome atas diri ini, melainkan agar Allah terus menjaga diri ini dalam nikmatnya iman... InsyaAllah.






*gambar dari sini (ada artikel tentang yuk menulisnya juga lho...dan yang dibilang di situ bener banget!)

Tuesday, August 28, 2012

Selamat Tinggal... Ramadan

Ramadan telah pergi, dan rasa yang ada selalu sama. Seperti yang sudah-sudah. Menyesal. Lagi-lagi merasa kurang optimal. Ya Allah, semoga madrasah Ramadan kemarin memberikan bekas yang baik pada hamba-Mu ini dan semoga Engkau pertemukan kembali aku dengan ia pada tahun berikutnya...




Belum sempat kubisikkan padanya rasa terima kasihku, belum sempat pula kutunjukkan padanya bukti rinduku. Tahu-tahu Ramadan sudah berlalu...
Oh, Ramadan... jangan segan mengunjungiku tahun depan


*gambar dari sini