Hello 2015!!!
Padahal 2015 sudah kelewat 21 hari dan baru sekarang say hello... *tepokjidat*
Dan parahnya, selama 2014 tidak ada satu tulisan pun yang saya hasilkan dari blog ini. Hmmm... Jadi curiga ke diri sendiri, jangan-jangan saya posting di blog hanya 1 tahun sekali pas pergantian tahun masehi. Reny, please back on the track! Sejujurnya saya merindukan masa-masa dulu di mana saya rajin menulis. Rasanya saat-saat rajin menulis, banyak hal sia-sia yang bisa saya redam untuk tidak dilakukan.
Lagi-lagi saya akan mulai mencoba kembali menulis dengan apa adanya kemampuan saya. Semoga ada hikmah terserak dalam tulisan ini yang bisa diambil, sekecil apapun. Semoga tulisan ini tidak menjadi kesia-siaan belaka bagi sahabat yang sudah berkenan membaca.
Yak, here we go!
Tahun 2015 ini diawali dengan tugas kuliah yang menumpuk dan banyak impian -entah obsesi entah ambisi lebih tepatnya- yang belum tercapai. Tidak terasa hampir setahun saya kembali duduk di bangku kuliah. Menyenangkan, semangat, bosan, lelah, dan libur silih berganti. *random* Di luar itu semua, tentu luar biasa bersyukur mendapat kesempatan untuk bisa kuliah lagi, gratis pulak :D Setelah kuliah, ternyata persepsi saya tentang tugas belajar agak berubah, hehe. Tadinya saya pikir saya bisa mulai jadi istri dan ibu wanna be- rumah tangga yang baik dengan lebih sering ada di rumah. Kenyataannya, saya malah jarang ada di rumah karena saya ngekos. Frekuensi bertemu dengan suami juga hampir sama kecuali jika saya sedang libur. Malah belakangan ini lebih banyak di kos, sementara suami di rumah (Depok). Pupus sudah bayangan mengantar (baca : melambaikan tangan dari pintu rumah) dan menyambut suami saat berangkat dan pulang kerja. Mungkin perlu dimunculkan istilah baru SDR alias Short Distance Relationship untuk mewakili kondisi saya dan suami saat ini :)
Bagaimanapun, besarnya impian yang hendak kita wujudkan memang menuntut pengorbanan yang besar. Beda dengan impian yang biasa saja, misal impiannya mau minum jus alpukat... :p ya tinggal beli aja jus alpukatnya di tukang jualan jus, cuma 8rebu. Paling ditambah capek jalan untuk sampai ke sana. Akhirnya memang harus menganggap ini adalah salah satu harga yang harus dibayar supaya saya bisa tambah pinter. Jadi, ngga boleh mengeluh yaa ketika memang harus berkorban untuk mendapatkan apa yang kita impikan :)
Oiya, sebenarnya yang ingin saya bicarakan di postingan kali ini adalah tentang tema kultumnya Febriyanti Almeera. Kalo belum tahu siapa dia, silakan googling yaa... Salah satu kultumnya Febriyanti Almeera di yutub ada yang berjudul (kalo ga salah) "Great Muslimah". Nah saya mau sedikit mengulas kultumnya. Di situ dibilang bahwa kadang ketika ada orang-orang yang hebat dan sukses di sekitar kita, kita jadi suka bertanya-tanya... "Kok bisa sih dia begitu? Gimana caranya ya jadi seperti dia?" atau mungkin parahnya ada yang sampai dengki, berharap apa yang didapat saudara/saudarinya dihilangkan oleh Allah, naudzubillahi min dzalik jangan sampai terjerumus dalam perasaan seperti itu. Poin kultumnya, sebenarnya cara untuk menjadi hebat juga adalah dengan melakukan 3 langkah ini secara berurutan:
1. Fokus to Allah
Kita fokuskan diri kepada apa-apa yang Allah cintai dan sukai, lalu kerjakan-kerjakan dan kemudian perbanyak mengerjakannya. Kita juga fokus kepada apa-apa yang Allah tidak sukai, lalu tinggalkan-hindari-dan jauhi. Intinya, apa yang bisa membuat Allah ridha kepada kita, kerjakanlah!
2. Fokus to meFokus kepada diri sendiri bukan berarti egois. Fokus kepada diri sendiri adalah mengenali diri kita sebaik-baiknya. Tahu apa yang menjadi tujuan hidup kita, kelebihan, kekurangan, bagaimana kondisi kita saat ini, dan lain sebagainya seputar diri kita. Setelah mengenali diri, maka kita bisa mengoptimalkan diri untuk menghebatkan diri.
3. Fokus to the others
Berikutnya, fokus kepada orang lain. Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain. Bukan kata saya lho itu... Itu kata Rasulullah jauh berabad-abad yang lalu. Cari deh biografi orang besar yang nggak memberi manfaat untuk orang lain, ada nggak?
Hebat, seperti halnya enak-murah-mahal-jauh-dekat- adalah hal yang sifatnya relatif. Tidak ada ukuran pasti tentang apa itu yang disebut hebat. Tapi satu yang pasti, yuk rajin menghebatkan diri di hadapan Allah :)
Sepakat apa sepakat?!
Note:
Kultum versi aslinya bisa dilihat di sini ya... Kalo nyang tulisan di atas itu sepemahaman saya aja :D
Thursday, January 22, 2015
Tuesday, December 31, 2013
Menyambut 2014
gambar dari sini
Tahun sebentar lagi akan berganti, masing-masing orang sudah menyiapkan agendanya sendiri-sendiri. Nah kalau saya, juga sudah ada agenda pribadi. Apa itu? Jreng... jreng... agendanya biasa saja sebenarnya. Di akhir tahun ini, saya akan membuat catatan mengenai harapan di tahun yang akan datang sekaligus pencapaian-pencapaian kecil yang alhamdulillah bisa saya lakukan di tahun ini.
Mungkin ada yang bertanya ya... Kenapa harus pas pergantian tahun masehi? Kenapa evaluasi dan pencanangan resolusinya nggak dilakukan di pergantian tahun hijriyah? Biar sekaligus bisa memaknai hijrah gituh... Hehe... :D Pengennya begitu sih ya, tapi berhubung saya masih belum terbiasa menggunakan kalender hijriayah pada kegiatan sehari-hari saya, untuk mudahnya saya pake kalender masehi dulu lah. Bukan soal perayaan tahun barunya, tapi hanya menggunakan momennya saja. Setiap resolusi yang dicanangkan harus ada time limitnya, pergantian tahun bisa jadi momen yang lebih mudah diingat sebagai batas waktu pencapaian resolusi-resolusi saya. Oiya, di sini saya mau menuliskan sekelumit aja ya... Alias mau numpang buat konsep doang. Kalo detailnya cukup saya dan Allah yang tau aja untuk saat ini, hehe :D
Nah, langsung aja yah... apa kabar 2013?
Di 2013, ada beberapa harapan yang tercapai dan ada juga yang tidak. Yang tercapai, meski tidak begitu banyak, tapi cukup membuat saya puas. Ada dua hal.
Pertama, kesempatan kuliah lagi! Yeiy... Ceritanya, tahun lalu adalah kesempatan pertama saya mendaftar dan ikut tes untuk kuliah D4 STAN, tapi ternyata gagal, Saudara-Saudara! Alhamdulillah, pada kesempatan kedua di tahun ini, saya dapat juga tiketnya. Rasanya lulus tes masuk D4 STAN itu, ruar biasa... Awalnya sempat pesimis, dengan persiapan yang sedikit tentu saja betul-betul membuat saya kehilangan pede sampai titik yang cukup rendah. Setelah melalui serangkaian perenungan panjang, satu hari menjelang tes saya berhasil mengembalikan keoptimisan pada tempatnya. Kalau Allah bilang jadi, ya jadi kan... Toh, saya bukannya tidak melakukan apa-apa. Justru usaha di tahun ini lebih keras dari yang sebelumnya. Begitu tes berakhir saya juga nggak ambil pusing. Yang penting saya yakin bahwa tidak akan menyesal apapun hasilnya. Dan... entah dari doa siapa Allah kabulkan juga harapan saya :D Kuliah D4 ini, insyaAllah menjadi salah satu jalan pembuka bagi impian-impian saya yang lain. Doakan yaaa... Maret tahun depan saya mulai kuliah insyaAllah.
Kedua, bisnis! Setelah sekian lama mempercayai bahwa saya tidak punya kemampuan untuk berbisnis, akhirnya tahun ini saya berhasil mematahkan anggapan saya sendiri. Biarpun masih kecil-kecilan, tapi lumayan lah... buat saya bisa berbisnis merupakan suatu prestasi yang membanggakan. Mulai dari jualan bros batu khas Kalimantan, baju anak, cokelat dan kacang mede aneka rasa. Sampai sekarang yang rutin berjalan hanya jualan baju anak saja karena yang lain memang musiman. Oiya, untuk jualan baju anak, saya bermitra dengan teman sekantor saya. Hasilnya kalau ada ya ada saja tiap bulannya, tapi karena modal awal kami kecil dan belum punya networking yang luas, ya hasilnya masih segitu-segitu saja :D Alhamdulillah 'ala kulli hal :)
Yang belum tercapai apa? Banyak juga sih, salah satunya harapan untuk punya dedek bayi. Tapi untuk yang satu ini saya dan suami memang kurang berikhtiar untuk program kehamilan. Setiap kali berencana ke dokter kandungan, ditunda lagi ditunda lagi, hehe :D Saya juga masih belum belajar banyak dari sekian banyak ilmu tentang parenting. Jadi ya begitulah.... Alhamdulillah 'ala kulli hal :)
Resolusi lain, hapalan Quran nambah, tapi realisasinya cuma pindah -__-"
Resolusi lainnya lagi, rajin nulis. Ini yang belum terealisasi sama sekali. Sempat ikut lomba resensi buku selama sebulan. Tapi sayangnya cuma memenuhi 5 dari 30 hari. Nggak banget deh ini...
Resolusi lainnya lagi yang lain-lain, sepertinya tidak usah disebutkan yaa...hehehe...belum tercapai sih :P
'n... 2014... here we go!
Secara umum, ada 3 hal yang saya prioritaskan dalam kehidupan saya di tahun depan.
1. Keluarga
2. Pendidikan
3. Bisnis (teteup :p)
Bisa kuliah D4 tahun depan ternyata membuka banyak jalan harapan-harapan saya untuk dapat diwujudkan, termasuk dalam 3 hal di atas.
1. Keluarga... Selama ini, saya masih merasa belum mampu menjadi seorang istri yang baik. Sering saya berpikir, mungkin karena itulah, Allah belum akan menambah amanah sekaligus karunia kepada saya, menjadi ibu. Repotnya jadi wanita bekerja, sangat berdampak kepada keseharian dan waktu yang tersisa di rumah. Setelah nanti mulai tugas belajar, waktu saya memang tetap akan banyak dilakukan untuk hal-hal di luar rumah, tetapi setidaknya waktu yang habis di jalan jauh berkurang karena saya dan suami berencana mengontrak dekat kampus. Membayangkan jadi istri -yg hampir- full time di rumah sungguh menyenangkan. Paling tidak saya bisa memasak setiap hari, melepas suami berangkat kerja sampai di pintu rumah, dan menyambut suami yang pulang dari kantor. Waaaahhhhh, senaaannggg.... Hidup sehat, mengikuti program kehamilan dari dokter, akupuntur, banyak-banyak berdoa, dan lebih banyak bersabar menjadi jalan-jalan yang akan saya tempuh untuk bisa punya dedek bayi. Di samping itu, sebagian besar porsi waktu akan saya isi dengan fokus menambah ilmu agama dan ilmu seputar parenting. Tagline-nya...
Mungkin ada yang bertanya ya... Kenapa harus pas pergantian tahun masehi? Kenapa evaluasi dan pencanangan resolusinya nggak dilakukan di pergantian tahun hijriyah? Biar sekaligus bisa memaknai hijrah gituh... Hehe... :D Pengennya begitu sih ya, tapi berhubung saya masih belum terbiasa menggunakan kalender hijriayah pada kegiatan sehari-hari saya, untuk mudahnya saya pake kalender masehi dulu lah. Bukan soal perayaan tahun barunya, tapi hanya menggunakan momennya saja. Setiap resolusi yang dicanangkan harus ada time limitnya, pergantian tahun bisa jadi momen yang lebih mudah diingat sebagai batas waktu pencapaian resolusi-resolusi saya. Oiya, di sini saya mau menuliskan sekelumit aja ya... Alias mau numpang buat konsep doang. Kalo detailnya cukup saya dan Allah yang tau aja untuk saat ini, hehe :D
Nah, langsung aja yah... apa kabar 2013?
Di 2013, ada beberapa harapan yang tercapai dan ada juga yang tidak. Yang tercapai, meski tidak begitu banyak, tapi cukup membuat saya puas. Ada dua hal.
Pertama, kesempatan kuliah lagi! Yeiy... Ceritanya, tahun lalu adalah kesempatan pertama saya mendaftar dan ikut tes untuk kuliah D4 STAN, tapi ternyata gagal, Saudara-Saudara! Alhamdulillah, pada kesempatan kedua di tahun ini, saya dapat juga tiketnya. Rasanya lulus tes masuk D4 STAN itu, ruar biasa... Awalnya sempat pesimis, dengan persiapan yang sedikit tentu saja betul-betul membuat saya kehilangan pede sampai titik yang cukup rendah. Setelah melalui serangkaian perenungan panjang, satu hari menjelang tes saya berhasil mengembalikan keoptimisan pada tempatnya. Kalau Allah bilang jadi, ya jadi kan... Toh, saya bukannya tidak melakukan apa-apa. Justru usaha di tahun ini lebih keras dari yang sebelumnya. Begitu tes berakhir saya juga nggak ambil pusing. Yang penting saya yakin bahwa tidak akan menyesal apapun hasilnya. Dan... entah dari doa siapa Allah kabulkan juga harapan saya :D Kuliah D4 ini, insyaAllah menjadi salah satu jalan pembuka bagi impian-impian saya yang lain. Doakan yaaa... Maret tahun depan saya mulai kuliah insyaAllah.
Kedua, bisnis! Setelah sekian lama mempercayai bahwa saya tidak punya kemampuan untuk berbisnis, akhirnya tahun ini saya berhasil mematahkan anggapan saya sendiri. Biarpun masih kecil-kecilan, tapi lumayan lah... buat saya bisa berbisnis merupakan suatu prestasi yang membanggakan. Mulai dari jualan bros batu khas Kalimantan, baju anak, cokelat dan kacang mede aneka rasa. Sampai sekarang yang rutin berjalan hanya jualan baju anak saja karena yang lain memang musiman. Oiya, untuk jualan baju anak, saya bermitra dengan teman sekantor saya. Hasilnya kalau ada ya ada saja tiap bulannya, tapi karena modal awal kami kecil dan belum punya networking yang luas, ya hasilnya masih segitu-segitu saja :D Alhamdulillah 'ala kulli hal :)
Yang belum tercapai apa? Banyak juga sih, salah satunya harapan untuk punya dedek bayi. Tapi untuk yang satu ini saya dan suami memang kurang berikhtiar untuk program kehamilan. Setiap kali berencana ke dokter kandungan, ditunda lagi ditunda lagi, hehe :D Saya juga masih belum belajar banyak dari sekian banyak ilmu tentang parenting. Jadi ya begitulah.... Alhamdulillah 'ala kulli hal :)
Resolusi lain, hapalan Quran nambah, tapi realisasinya cuma pindah -__-"
Resolusi lainnya lagi, rajin nulis. Ini yang belum terealisasi sama sekali. Sempat ikut lomba resensi buku selama sebulan. Tapi sayangnya cuma memenuhi 5 dari 30 hari. Nggak banget deh ini...
Resolusi lainnya lagi yang lain-lain, sepertinya tidak usah disebutkan yaa...hehehe...belum tercapai sih :P
'n... 2014... here we go!
Secara umum, ada 3 hal yang saya prioritaskan dalam kehidupan saya di tahun depan.
1. Keluarga
2. Pendidikan
3. Bisnis (teteup :p)
Bisa kuliah D4 tahun depan ternyata membuka banyak jalan harapan-harapan saya untuk dapat diwujudkan, termasuk dalam 3 hal di atas.
1. Keluarga... Selama ini, saya masih merasa belum mampu menjadi seorang istri yang baik. Sering saya berpikir, mungkin karena itulah, Allah belum akan menambah amanah sekaligus karunia kepada saya, menjadi ibu. Repotnya jadi wanita bekerja, sangat berdampak kepada keseharian dan waktu yang tersisa di rumah. Setelah nanti mulai tugas belajar, waktu saya memang tetap akan banyak dilakukan untuk hal-hal di luar rumah, tetapi setidaknya waktu yang habis di jalan jauh berkurang karena saya dan suami berencana mengontrak dekat kampus. Membayangkan jadi istri -yg hampir- full time di rumah sungguh menyenangkan. Paling tidak saya bisa memasak setiap hari, melepas suami berangkat kerja sampai di pintu rumah, dan menyambut suami yang pulang dari kantor. Waaaahhhhh, senaaannggg.... Hidup sehat, mengikuti program kehamilan dari dokter, akupuntur, banyak-banyak berdoa, dan lebih banyak bersabar menjadi jalan-jalan yang akan saya tempuh untuk bisa punya dedek bayi. Di samping itu, sebagian besar porsi waktu akan saya isi dengan fokus menambah ilmu agama dan ilmu seputar parenting. Tagline-nya...
"Menjadi istri penyejuk hati, mempersiapkan diri mendidik generasi!"
2. Pendidikan (dan Keterampilan)... Tahun 2014 akan menjadi tahun yang penuh perjuangan buat saya... untuk belajar, dan belajar. Karena kuliah nanti merupakan amanah dari kantor, yang juga menentukan status impian-impian saya pada step berikutnya. Saya bercita-cita untuk menjadi dosen di suatu ketika. Tidak bisa tidak, saya harus banyak belajar. Sebisa mungkin tidak hanya dari mata kuliah-mata kuliah yang diajarkan di kampus. Di sisi lain, saya juga ingin bisa menguasai beberapa jenis keterampilan. Menjahit, menyulam, beading, patchwork & quilting, bahasa asing, banyak banget yaa... hehehe :D Dua keterampilan yang akan saya prioritaskan adalah menjahit dan ber-Bahasa Inggris. Kalau Bahasa Inggris, mungkin lebih banyak belajar pede cas-cis-cus-nya, dan sepertinya belum prioritas untuk ikut kursus kelas conversation. Menjahitnya ini... yang saya pertimbangkan untuk ikut kursus :D Beberapa waktu yang lalu saya bahkan sudah mengontak pihak penyelenggara kursus menjahit di dekat kampus untuk mengorek-ngorek info. Tapi masih ketar-ketir.... cukup ga ya tabungannya? Secara yaa... akan banyak rencana kegiatan di list saya yang ingin saya lakukan di masa-masa kuliah, hihihi.... *mumpung nih. Tapi satu hal yang insyaAllah akan terus berlanjut, ikut program tahsin-tahfidz. Doakan yaah, supaya bisa nambah hapalan Quran :) Tagline-nya....
"Bersama ilmu, bermanfaat dan berbagi sepanjang waktu!"
3. Bisnis... Kalau kita sering mendengar istilah mata duitan, mungkin ada juga istilah mata bisnisan. Bisnis itu ternyata nagih, hehehe :D Rencananya saya akan membuka bisnis baru. Masih seputar online shop juga sih. Tapi ke depannya, saya tidak hanya akan berjualan baju anak, tetapi juga barang-barang lainnya. Online shop baju anak, insyaAllah masih bermitra dengan teman sekantor saya yang juga dapat kesempatan D4 tahun 2014. Untuk barang-barang lainnya ini, rencananya proyek sendiri saja. Sebagian jualan saya (biidznillah) akan saya launching di awal tahun nanti. Apaan sih? Rahasia lah... Tunggu saja tanggal mainnya. Yang ini mohon doanya juga ya... Setahun ke depan, mengoptimalkan online shop. Setahun berikutnya lagi targetnya sudah pada rencana toko offline. Oiya, yang ini tagline-nya...
"Kreatif, berdaya dan mandiri dengan bisnis sendiri!"
Udah deh... sekian aja. Kira-kira, dari tagline-tagline yang tersebut di atas, bisa sedikit tergambar juga detail-detail target dan langkah-langkah pencapaiannya. Semoga bisa menginspirasi ya, Sobat blogger :)
Ini rencanaku, apa rencanamu? :D
Ini rencanaku, apa rencanamu? :D
Wednesday, October 23, 2013
Mata Ketiga Cinta
Penulis : Helvy Tiana Rosa
Penerbit : Asma Nadia Publishing House
Tanggal terbit : 2012
Halaman : 96
***
Saya jatuh cinta! Yup, buku ini membuat saya absolutely falling in love. Sudah agak lama sebenarnya saya ingin membaca buku ini, tetapi karena belum sempat membeli, maka ketika ada teman yang bersedia meminjamkan, saya pun dengan senang hati membawanya pulang. Untuk dibaca tentu saja. Buku yang hanya setebal 96 halaman ini saya baca sepanjang perjalanan pulang kantor dengan kereta. Sepanjang Stasiun Juanda sampai rumah saya di daerah Depok, habislah buku cantik ini saya nikmati. Ya, saya benar-benar menikmati membaca buku ini. Bagi Anda yang sudah sering naik komuter line di jam pulang kantor, bisa membayangkan dong bagaimana ramai dan melelahkannya bahkan untuk sekedar berdiri. Tapi dengan buku ini sebagai teman, perjalanan yang biasanya melelahkan sama sekali tidak terasa. Naik kereta, baca sambil berdiri, tahu-tahu sudah sampai di stasiun tujuan. Dan bukunya belum tamat! Padahal kan tidak sampai seratus halaman?!
Tentu saja, saking menikmatinya, satu halaman sampai saya baca berulang-ulang. Mirip ABG yang dapat surat cinta dari orang yang ditaksir, lalu dibaca terus-terusan sampai lecek. Haha... Tapi saya bacanya ga sampai lecek lho ya... Secara, pinjem gitu... Akhirnya saya memutuskan untuk membeli sendiri buku ini, sayang kalau sampai tidak punya buku sebagus ini! Kalau punya sendiri kan saya bisa baca berulang-ulang, hehe :D
Lalu, kenapakah saya sampai jatuh cinta sedemikian rupa pada buku ini? Baca saja sendiri puisi-puisinya Mba Helvy Tiana Rosa ini. Untaian katanya begitu hidup. Biarpun kata-kata yang digunakan sederhana, tapi saya merasa maknanya begitu dalam. Ada juga beberapa puisi yang saya sendiri tidak bisa menginterpretasikan maknanya sesuai dengan versi saya. Tapi toh hal itu tidak mengurangi kenikmatan saya membaca bait demi bait puisinya.
Saya ambilkan satu bait dari salah satu puisinya:
Tentu saja, saking menikmatinya, satu halaman sampai saya baca berulang-ulang. Mirip ABG yang dapat surat cinta dari orang yang ditaksir, lalu dibaca terus-terusan sampai lecek. Haha... Tapi saya bacanya ga sampai lecek lho ya... Secara, pinjem gitu... Akhirnya saya memutuskan untuk membeli sendiri buku ini, sayang kalau sampai tidak punya buku sebagus ini! Kalau punya sendiri kan saya bisa baca berulang-ulang, hehe :D
Lalu, kenapakah saya sampai jatuh cinta sedemikian rupa pada buku ini? Baca saja sendiri puisi-puisinya Mba Helvy Tiana Rosa ini. Untaian katanya begitu hidup. Biarpun kata-kata yang digunakan sederhana, tapi saya merasa maknanya begitu dalam. Ada juga beberapa puisi yang saya sendiri tidak bisa menginterpretasikan maknanya sesuai dengan versi saya. Tapi toh hal itu tidak mengurangi kenikmatan saya membaca bait demi bait puisinya.
Saya ambilkan satu bait dari salah satu puisinya:
Ketika wajahmu tak lagi menampakkan
kening, mata, hidung, dan mulut
apakah yang masih bisa kukecup?
:doa
Membaca ini membuat saya merinding, betapa indahnya seseorang yang mampu mengecup doa. Membayangkan bagaimana proses mengecup doa, di tengah-tengah kerinduan.
Atau yang ini...
Aku mencintaimu sejak waktu, sejak bumi, sejak sukma, sejak bayi
Aku mencintaimu sampai laut, sampai langit, sampai darah, sampai mati
Mencintainya seperti apa coba? Kesannya, cintaaaaaaa bangeeeettt gitu ya? Tapi diungkapkan dengan sesuatu yang tak biasa. Dan di situlah letak keindahannya.
Juga yang paling saya favoritkan, judulnya "Sajak Februari"
Seperti gelombang yang setia pada lautan
Aku telah lama kau campakkan
ke pantai paling rindu itu
tapi sebagai ombak aku memang harus kembali
meski dengan luka yang paling badaiMembayangkan luka yang paling badai itu kayaknya sakiiiiiiitttttttt sekali :(
Ya, tiap halamannya membuat saya berhenti sejenak, meresapi keindahan katanya dan mencari-cari apa sebenarnya maksud puisi ini. Saya seolah membaca karya-karya sastra sekelas milik Hamka. Penuh makna, dan ketulusan hati. Karya yang ditulis dengan perenungan mendalam yang mengikutsertakan hati, tentu saja akan sampai ke hati juga dan membuat pembacanya ikut merenungkan. Tidak sabar menunggu puisi-puisi Mba HTR yang berikutnya :)
Lima bintang untuk buku kumpulan puisi ini!!!!!
Thursday, October 17, 2013
Catatan Hati Ibunda
Judul : Catatan Hati Ibunda
No. ISBN : 978-602-9055-19-1
Penulis : Asma Nadia, dkk
Penerbit : Asma Nadia Publishing House
Tanggal terbit : 2013
Halaman : 293
***
Buku ini sengaja saya beli dalam rangka persiapan belajar menjadi seorang ibu, dalam rangka #31hariberbagibacaan juga sih... Dua tahun lebih pernikahan saya dan suami, sampai saat ini kami belum dikarunia bayi kecil yang suara tawa-teriakan-tangisannya memenuhi penjuru rumah. Jadi, saya pikir ada baiknya memulai banyak belajar sebagai persiapan menjadi orang tua sebelum yang dinanti-nanti tiba :)
Dulu sebelum tahu dan merencanakan akan menikah pun, saya memulai banyak membaca buku-buku pernikahan, tentang kehidupan rumah tangga, dan sejenisnya -yang beberapa di antaranya ditulis oleh Asma Nadia. Barulah ketika persiapan saya sudah cukup memadai, Allah memercayakan kepada saya untuk menjadi seorang istri. Tiba-tiba saja si calon suami datang tak dijemput pulang tak diantar, hehe.... Berharap dengan persiapan yang matang pula, nanti Allah juga mempercayai saya untuk menjadi seorang ibu.
Buku ini, memenuhi ekspektasi saya atasnya. Tujuan saya membeli buku ini karena memang ingin mengetahui gambaran menjadi seorang ibu. Dan saya sukses dibuat terharu-menangis-dan tertawa oleh buku ini! Bener-bener catatan hati para ibu deh...
Buku ini sengaja saya beli dalam rangka persiapan belajar menjadi seorang ibu, dalam rangka #31hariberbagibacaan juga sih... Dua tahun lebih pernikahan saya dan suami, sampai saat ini kami belum dikarunia bayi kecil yang suara tawa-teriakan-tangisannya memenuhi penjuru rumah. Jadi, saya pikir ada baiknya memulai banyak belajar sebagai persiapan menjadi orang tua sebelum yang dinanti-nanti tiba :)
Dulu sebelum tahu dan merencanakan akan menikah pun, saya memulai banyak membaca buku-buku pernikahan, tentang kehidupan rumah tangga, dan sejenisnya -yang beberapa di antaranya ditulis oleh Asma Nadia. Barulah ketika persiapan saya sudah cukup memadai, Allah memercayakan kepada saya untuk menjadi seorang istri. Tiba-tiba saja si calon suami datang tak dijemput pulang tak diantar, hehe.... Berharap dengan persiapan yang matang pula, nanti Allah juga mempercayai saya untuk menjadi seorang ibu.
Buku ini, memenuhi ekspektasi saya atasnya. Tujuan saya membeli buku ini karena memang ingin mengetahui gambaran menjadi seorang ibu. Dan saya sukses dibuat terharu-menangis-dan tertawa oleh buku ini! Bener-bener catatan hati para ibu deh...
Ada cerita para ibu saat anak tercinta sakit, ada pula cerita mengenai perjuangan melahirkan bayi yang dinanti, cerita saat si ibu sedang kelelahan tapi si anak menguji emosi, jauh dari anak, ibu yang single parent, sampai kisah ibu yang kehilangan buah hati. Entah saya yang terlalu cengeng atau kebanyakan kisahnya yang memang mengharukan, berderai-derailah air mata saya seperti hujan yang tumpah dari langit. *lebay.com. Kapan sih saya nggak menangis kalo lagi baca buku? Jarang kayaknya! Tapi yang membuat berbeda adalah, kalo biasanya nangis hanya di satu atau beberapa bagian, buku ini membuat tangis haru saya hampir nggak berhenti di setiap bab baru. Dari 19 kisah, mungkin 3 atau 4 kisah yang tidak berhasil membuat saya menangis.
Cerita yang paling membuat saya penasaran adalah kisahnya Mba Sinta Yudisia. Kenapa? Karena judulnya "Demonstran!" Apa hubungannya coba? Anak dengan demonstran? Coba baca bagian ini...
... Jangan berharap mereka akan senantiasa menurut, patuh, dan taat pada setiap perintah yang kita ucapkan. Mereka dan kita adalah pribadi yang berbeda. Lazimnya sebuah pemerintahan yang otoriter, akan lahir para demonstran yang menyerukan keadilan. Bersuara lantang memprotes kebijakan yang dianggap berat sebelah.
Deg! Huahahahahahaha... *ketawa guling-guling. Terbayang para balita demo bawa papan yang isinya penuh dengan kalimat protes.
Dibandingkan dengan buku keroyokan lainnya, buku ini bisa dibilang lebih menyenangkan. Perbedaan gaya bahasa antara penulis yang satu dengan yang lainnya tidak terlalu mencolok sehingga pembaca bisa sangat menikmati lembar demi lembar cerita dalam buku ini. Bahasa cukup ringan dan mengalir. Layout yang cantik dan tidak terlalu padat membuat saya mampu menghabiskan buku ini dengan kilat.
Namun dari berbagai kelebihannya ada beberapa bagian kisah dalam buku ini yang membuat saya berusaha keras untuk menemukan sisi menariknya, mungkin karena bahasa yang digunakan oleh beberapa penulis kurang hidup.
Overall, empat dari lima bintang untuk buku ini. Kisah penutupnya itu lho... Terlalu indah untuk dikenang. Baca deh!
:-)
Friday, October 11, 2013
Rumah Tanpa Jendela
Hari Ahad lalu saya melihat salah satu channel televisi swasta menayangkan tentang kehidupan muslim Rohingnya yang dimusuhi karena iman mereka. Akibatnya sampai saat ini mereka masih hidup di pengungsian yang tidak bisa dikatakan layak untuk ditinggali, dan mereka hidup di sana sudah lebih dari satu tahun!
Seperti yang sudah-sudah, saya mewek-mewek sendiri hampir sepanjang acara. Langsung bersyukur sesyukur-syukurnya, keluarga kecil saya sudah tinggal di rumah sendiri walau produk BTN alias Beli Tapi Nyicil :p Dan menyesalnya, kenapa kemarin-kemarin saya masih sempat mengeluh banyak tentang rumah yang ditempati saat ini. Semoga saja keluhan-keluhan kemarin itu tidak dicatat malaikat sebagai perbuatan kufur nikmat, melainkan unsur khilaf saja.
Yang akan saya resensikan kali ini hanya novelnya saja ya, skenarionya tidak. Karena dari pertama beli tahun 2011 lalu sampai dengan sekarang, saya memang tidak hendak berencana membaca skenarionya. Naskah skenarionya ikutan dibeli hanya karena satu paket dengan novelnya saja.
Untuk membaca novel ini sampai habis, saya membutuhkan waktu yang tidak terlalu lama. Hampir semalaman. Hampir semua buku-buku Asma Nadia yang saya baca mampu membuat mata saya menganak-sungai. Hiks...
Rara, alkisah adalah seorang bocah perempuan piatu penghuni sebuah rumah tak berjendela di perkampungan kumuh di pinggiran Jakarta. Mimpinya sederhana, ia ingin memiliki jendela untuk rumah tripleksnya. Satu saja, agar dari dalam rumah bisa dilihatnya keindahan bulan tiap malam... atau kupu-kupu dan yang beterbangan di siang harinya, dan juga untuk melihat ramainya rintik hujan dari dalam rumahnya.
Dalam novel ini dibahas keseharian Rara bersama teman-temannya di perkampungan kumuh tersebut. Keluguan mereka, karakter-karakter mereka yang unik dan sering membuat saya tertawa di kala membaca, salah satunya Akbar yang gagap sehingga teman-temannya suka menjahili.
Pertemuan anak-anak kampung kumuh dengan Aldo dan keluarganya. Aldo, adalah seorang penderita down syndrome yang lahir di tengah keluarga kaya. Kehidupan mereka yang diwarnai oleh Bu Alia di rumah baca. Sungguh-sungguh kisah yang sangat menyentuh.
Dari kesemuanya, ada dua bagian di novel ini yang membuat isak saya makin menjadi. Yang pertama adalah ketika Bapak Rara berhasil membeli kusen jendela bekas. Subhanallah, merinding rasanya. Cinta yang begitu besar dari orang tua untuk anaknya. Bagaimanapun susah-payahnya, orang tua pasti akan berusaha untuk memberikan yang terbaik bagi anaknya, termasuk mewujudkan impian sang anak meski harus membanting tulang. Lalu yang kedua, bagian setelah itu. Saat Bapak Rara pulang membawa kusen jendela bekas di tangannya dan menemukan rumahnya dikepung oleh si jago merah bersamaan dengan rumah-rumah lain di perkampungan itu. Dengan heroiknya, sang bapak menerobos kobaran api demi menyelamatkan keluarganya. Saya benar-benar terharu. Mengingat sewaktu masih menjadi mahasiswa dulu sering bermain ke perkampungan kumuh dekat kampus. Kebanyakan saya dapati anak-anak kecil yang tidak dididik orang tuanya dengan baik, anak-anak polos yang kentara sekali kalau kekurangan kasih sayang dari orang tuanya. Seringkali mereka memeragakan cara orang tua mereka memperlakukan mereka kepada teman-teman mereka. Yang orang tuanya biasa marah-marah dengan berkata kasar, maka anak-anaknya dengan mudah membentak temannya dengan kata-kata kasar yang bahkan mereka sendiri tidak tau apa itu artinya. Yang orang tuanya biasa "menggerakan tangan" dengan ringan untuk menyampaikan sesuatu pada anak-anaknya, maka anak-anaknya pun suka main tangan. Salah sedikit saja berimbas pada bunyi "plak!". Ah, andai tiap orang tua di sana punya jiwa kasih sayang seperti Bapaknya Rara.
Di tengah cerita, saya merasa terganggu dengan cerita antara Bu Alia dengan Kak Adam dan Andini dengan pacarnya Billy. Pengennya saya skip saja dari buku ini, hehe. Hal lain yang menjadi catatan saya untuk buku ini adalah ekspektasi saya yang cukup besar pada bagian penutup tidak terjadi. Kisah Aldo dan keluarganya yang kaya cukup mudah ditebak kelanjutannya. Buat saya sebagai pembaca, kisah keluarga Aldo ini sering berulang dalam cerita-cerita televisi seperti sinetron. Meski begitu, saya berpikir bagian ini tidak harus dihilangkan, saya hanya berharap mendapatkan sesuatu yang lain entah dari cara atau bahasa penulis menceritakannya.
Setelah panjang lebar, akhirnya saya harus kembali mengaku pada realita, bahwa berkomentar sangatlah mudah, dan tidak mudah membuat kisah inspiratif yang semacam ini. Membuat kita berpikir dan ingin selalu mendekat kepada-Nya. Simaklah quote indah yang menutup kisah ini. Nasihat seorang ibu kepada anaknya.
Seperti yang sudah-sudah, saya mewek-mewek sendiri hampir sepanjang acara. Langsung bersyukur sesyukur-syukurnya, keluarga kecil saya sudah tinggal di rumah sendiri walau produk BTN alias Beli Tapi Nyicil :p Dan menyesalnya, kenapa kemarin-kemarin saya masih sempat mengeluh banyak tentang rumah yang ditempati saat ini. Semoga saja keluhan-keluhan kemarin itu tidak dicatat malaikat sebagai perbuatan kufur nikmat, melainkan unsur khilaf saja.
Gegara itulah saya jadi punya ide untuk tema #31hariberbagibacaan, mengubek-ubek rak buku dan ketemulah...... Taraaaaaa..... buku ini :D
Judul : Rumah Tanpa Jendela (Novel)
No. ISBN : 978-979-709-546-8
Penulis : Asma Nadia
Penerbit : Kompas
Tanggal terbit : 2011
Halaman : 180
Yang akan saya resensikan kali ini hanya novelnya saja ya, skenarionya tidak. Karena dari pertama beli tahun 2011 lalu sampai dengan sekarang, saya memang tidak hendak berencana membaca skenarionya. Naskah skenarionya ikutan dibeli hanya karena satu paket dengan novelnya saja.
Untuk membaca novel ini sampai habis, saya membutuhkan waktu yang tidak terlalu lama. Hampir semalaman. Hampir semua buku-buku Asma Nadia yang saya baca mampu membuat mata saya menganak-sungai. Hiks...
Rara, alkisah adalah seorang bocah perempuan piatu penghuni sebuah rumah tak berjendela di perkampungan kumuh di pinggiran Jakarta. Mimpinya sederhana, ia ingin memiliki jendela untuk rumah tripleksnya. Satu saja, agar dari dalam rumah bisa dilihatnya keindahan bulan tiap malam... atau kupu-kupu dan yang beterbangan di siang harinya, dan juga untuk melihat ramainya rintik hujan dari dalam rumahnya.
Dalam novel ini dibahas keseharian Rara bersama teman-temannya di perkampungan kumuh tersebut. Keluguan mereka, karakter-karakter mereka yang unik dan sering membuat saya tertawa di kala membaca, salah satunya Akbar yang gagap sehingga teman-temannya suka menjahili.
Pertemuan anak-anak kampung kumuh dengan Aldo dan keluarganya. Aldo, adalah seorang penderita down syndrome yang lahir di tengah keluarga kaya. Kehidupan mereka yang diwarnai oleh Bu Alia di rumah baca. Sungguh-sungguh kisah yang sangat menyentuh.
Dari kesemuanya, ada dua bagian di novel ini yang membuat isak saya makin menjadi. Yang pertama adalah ketika Bapak Rara berhasil membeli kusen jendela bekas. Subhanallah, merinding rasanya. Cinta yang begitu besar dari orang tua untuk anaknya. Bagaimanapun susah-payahnya, orang tua pasti akan berusaha untuk memberikan yang terbaik bagi anaknya, termasuk mewujudkan impian sang anak meski harus membanting tulang. Lalu yang kedua, bagian setelah itu. Saat Bapak Rara pulang membawa kusen jendela bekas di tangannya dan menemukan rumahnya dikepung oleh si jago merah bersamaan dengan rumah-rumah lain di perkampungan itu. Dengan heroiknya, sang bapak menerobos kobaran api demi menyelamatkan keluarganya. Saya benar-benar terharu. Mengingat sewaktu masih menjadi mahasiswa dulu sering bermain ke perkampungan kumuh dekat kampus. Kebanyakan saya dapati anak-anak kecil yang tidak dididik orang tuanya dengan baik, anak-anak polos yang kentara sekali kalau kekurangan kasih sayang dari orang tuanya. Seringkali mereka memeragakan cara orang tua mereka memperlakukan mereka kepada teman-teman mereka. Yang orang tuanya biasa marah-marah dengan berkata kasar, maka anak-anaknya dengan mudah membentak temannya dengan kata-kata kasar yang bahkan mereka sendiri tidak tau apa itu artinya. Yang orang tuanya biasa "menggerakan tangan" dengan ringan untuk menyampaikan sesuatu pada anak-anaknya, maka anak-anaknya pun suka main tangan. Salah sedikit saja berimbas pada bunyi "plak!". Ah, andai tiap orang tua di sana punya jiwa kasih sayang seperti Bapaknya Rara.
Di tengah cerita, saya merasa terganggu dengan cerita antara Bu Alia dengan Kak Adam dan Andini dengan pacarnya Billy. Pengennya saya skip saja dari buku ini, hehe. Hal lain yang menjadi catatan saya untuk buku ini adalah ekspektasi saya yang cukup besar pada bagian penutup tidak terjadi. Kisah Aldo dan keluarganya yang kaya cukup mudah ditebak kelanjutannya. Buat saya sebagai pembaca, kisah keluarga Aldo ini sering berulang dalam cerita-cerita televisi seperti sinetron. Meski begitu, saya berpikir bagian ini tidak harus dihilangkan, saya hanya berharap mendapatkan sesuatu yang lain entah dari cara atau bahasa penulis menceritakannya.
Di luar kisah itu, yang saya tidak habis pikir, bagaimana proses kreatif Asma Nadia dalam menangkap hal yang sederhana lalu mampu mengolahnya menjadi karya indah. Tidak banyak orang yang berpikir bahwa jendela bisa dijadikan sebuah cerita, apalagi cerita yang menginspirasi. Tapi lain halnya dengan penulis satu ini, dari sebuah jendela milik Asma Nadia, kita mampu menangkap berbagai hikmah.
Allah pasti mengabulkan setiap doa, Ra. Tapi kadang ada doa-doa lebih penting yang harus didahulukan.Empat dari lima bintang saya persembahkan untuk novel ini.
Tuesday, October 8, 2013
Spiritual Reading, Hidup Lebih Bermakna dengan Membaca
No. ISBN : 978-979-3653-39-6
Penulis : Dr. Raghib As Sirjani & Amir Al Madari
Penerjemah : H. Sarwedi MA Hasibuan, Lc
Penerbit : Aqwam
Tanggal terbit : Mei-2007 (Cetakan II)
Penerjemah : H. Sarwedi MA Hasibuan, Lc
Penerbit : Aqwam
Tanggal terbit : Mei-2007 (Cetakan II)
Halaman : 207
***
Sewaktu bingung mencari-cari buku apa yang mau saya resensi, holaaa... ketemulah buku yang satu ini. Buku favorit saya dari zaman dahulu kala. Senangnya... bisa bernostalgia dengan buku yang satu ini :)
Buku ini tidak sengaja saya temukan pas event pameran buku Islam terbesar, Islamic Book Fair! Kalau saya tidak salah ketemunya pas IBF 2008 di mana pada tahun itu saya untuk kali kedua datang memborong buku di IBF.
Begitu selesai membaca buku ini, saya berasa seperti orang miskin level 10 yang tiba-tiba menemukan gunungan harta karun yang melimpah ruah dan tersembunyi dari penglihatan banyak orang! *lebaydotcom. Sebenarnya memang nggak ada salahnya ungkapan yang saya sampaikan itu. Pasalnya, saya membeli buku ini dengan harga tidak lebih dari 20k (cuma belasan ribu rupiah!) tetapi yang saya dapatkan banyaaaaaaakkkk buangeeeetttttt.
Secara umum isinya sesuai dengan judulnya, yakni tentang membaca. Yang berbeda, buku ini membahas secara detail segala sesuatu yang berhubungan dengan kegiatan membaca, namun dengan sudut pandang seorang muslim. Di toko buku, biasanya saya temukan buku dengan tema seperti ini banyak didominasi oleh penulis-penulis dari Barat. Kalaupun ada penulis dari Indonesia yang menulis tema ini pun, -yang saya tahu sejauh ini- tulisannya kurang nendang. Buku ini, biarpun yang nulis dari luar juga alias buku terjemahan, mengusung cita rasa yang cocok untuk dikonsumsi muslim Indonesia. Recommended lah pokoknya...
Mulai dari mengapa kita harus membaca, mengatasi kebosanan saat membaca, menentukan prioritas bacaan, sampai tips-tips membaca yang efektif, semuanya dikupas tuntas-tas-tas-tas oleh penulis dalam buku tipis yang padat gizi ini. Apalagi diselipkan pula kisah-kisah salafus shalih yang cinta sampai mati terhadap ilmu dan buku, seperti kisah Al Hasan Al Lu'lu'i yang selama 40 tahun tak pernah istirahat siang, tidur malam ataupun berbaring melainkan terdapat buku di atas dadanya atau Ibnul Jahm yang mengusir kantuk dengan membaca buku. Kalo kita mah kebalikannya... Mengundang kantuk dengan membaca buku. (Kita? Saya aja kali ya? *sebelum datang gelombang protes dari yang baca).
Kekurangan buku ini apa? Kekurangannya adalah, saya sulit sekali menemukan kekurangannya! Mungkin di sini ada sedikit kebenaran dari kata-kata orang bahwa cinta itu membutakan. Saya sudah terlanjur cinta buku ini, jadi saya tidak melihat adanya kekurangan pada buku ini. Tetapi bagaimanapun, bacaan itu adalah soal selera. Kalau tidak selera, ya bisa saja buku ini tidak menarik untuk dibaca. Seperti saya yang suka membatin 1-2 tahun sebelum menemukan buku ini, kenapa sih orang perlu membaca buku tentang "membaca". Bukankah tinggal dibaca saja? Hehe...
Sebagai penutup resensi saya kali ini, saya ambilkan secuil syair dari buku ini yang dibuat oleh salah seorang salafus shalih pecinta buku dan ilmu:
Sebaik-baik kekasih dan teman adalah buku
Engkau bisa berduaan dengannya saat semua kawan mengkhianati
Ia takkan membongkar rahasiamu, tak pula menjelek-jelekkanmu
Yang kau dapat darinya hanyalah kebijaksanaan dan kebenaran
*)Ini kalo kita pilih buku yang benar yaaa... karena saat ini setiap orang sudah bisa menerbitkan buku sendiri dengan mudahnya
Oiya, saya jadi ingat satu hal yang mungkin jadi kekurangan buku ini. Sebagaimana buku terjemahan kebanyakan, kalau ada puisi atau syair yang memiliki rima di buku aslinya, maka puisi atau syair yang diterjemahkan biasanya tidak seindah aslinya. Tapi, kesimpulan ini masih berupa kemungkinan lho yaa... Maka dari itu, boleh dong kalau saya beri bintang 5 -dari 5 bintang- untuk buku ini :)
Subscribe to:
Posts (Atom)









