Pages

Friday, June 2, 2017

Proyek Menggenapi Tahun Menjadi Enam

Ada banyak alasan mengapa seorang laki-laki dan seorang perempuan memutuskan untuk menikah. Namun hanya satu alasan yang kuharap menjadi jawaban mengapa kau mengucap akad pada ayahku atasku. Karena Allah. Karena ridho Allah.

Allah Ta'ala adalah alasan yang sempurna bagi kita berdua untuk memantapkan hati memulai kehidupan baru. Cukup Allah saja. Semoga. Selalu.




Aku tak punya banyak kelebihan untuk menjadi istrimu. Masak tak pandai, berbenah tak cakap, pun melakukan pekerjaan rumah lainnya aku tak akrab. Meski berderetnya kurangku, semoga kebaikan dan keberkahan tak luput hadir dalam rumah tangga kita, itu saja yang mungkin kuharap.

Terima kasih telah menjadi suami yang sabar, yang pengertian, yang kocak (ini mungkin kalo di depan istri aja ya, hehe), yang bertanggung jawab, yang tepat seperti aku butuhkan. Benarlah, Allah tak selalu memberi apa yang kita inginkan, tapi Allah pasti selalu memberi apa yang kita butuhkan. Sayangnya... bagiku, kamu adalah apa yang aku butuhkan dan inginkan *ciyeehh :p

Hampir enam tahun perjalanan berumah tangga kita. Berumah tangga adalah membangun rumah bersama sebagai tempat tinggal agar kelak kita bisa bersama menapaki tangga untuk menjadi lebih baik. Kita tidak membeli rumah, tapi kita membangunnya. Perlu bermacam proses dan waktu untuk membangun sebuah rumah yang indah -meski tak dipungkiri juga biaya, haha :D Tak seperti membeli rumah jadi yang kita tak tau bagaimana proses pembangunannya. Tahu-tahu sudah jadi dan kita tinggal menempati. Bukan, rumah tangga bukan untuk ditempati dan terima jadi. Berumah tangga selayak proses membuat bangunan, bangunan peradaban. Untuk kemudian ditempati oleh pemilik kaki-kaki mungil. Hampir enam tahun bukan waktu yang sebentar. Mereka.. para penerus peradaban itu memang belum hadir dalam keluarga kita. Kita masih menanti dan menanti. Namun terima kasih telah mengizinkan dan membersamaiku untuk menjadikan episode menunggu menjadi lebih berarti.

***

Untukmu suami, terima kasih sudah percaya sebuah cita yang kupendam lama. Dengan restumu, dengan mengizinkan aku menanti melalui cara terbaik yang kuyakini... coming soon...
Rumah Peradaban -belum bernama- yang insyaAllah akan menjadi tempat belajar bagi anak-anak tetangga di sekitar. Yang sebenarnya lebih tepat disebut sebagai tempat belajar bagimu dan bagiku untuk membangun peradaban. InsyaAllah...

Doanya ya, Kawans :) Bakda lebaran ini semoga kami masih ada umur dan Allah cukupkan rezekinya untuk mengeksekusi rencana ini. Rezeki harta, rezeki tenaga, dan utamanya rezeki waktu. Aamiin, Allahumma aamiin.


Suatu malam,
menjelang satu purnama lagi terlewati hingga penantian tahun kita genap menjadi enam.

02 Juni 2017

Friday, May 26, 2017

INDIKATOR ISTRI PROFESIONAL: Jadi Tukang Pijit!

Tahun 2017 ini bisa dibilang adalah waktu yang saya rencanakan untuk fokus mempersiapkan diri sebagai ibu. Setelah 5 –hampir 6- tahun pernikahan, saya merasa inilah saatnya program menjadi ibu harus lebih diseriusi. Tidak sekadar tentang program kehamilan, tetapi juga tentang program membangun peradaban. Al ummu madrasatul ‘ula kan?

Sehubungan dengan hal itulah, saya kemudian mengikuti program matrikulasi Institut Ibu Profesional (IIP) yang diselenggarakan secara online, yeaayyy!!! (tapi remedial karena sebelumnya saya belum memenuhi kualifikasi untuk lulus di program yang sama -_-"). Saat ini sudah memasuki pekan ke-2 pembelajaran.

Ada sedikit cerita di balik pengerjaan NHW ini. Supaya hasilnya lebih akurat, indikator yang akan disusun sebaiknya ditanyakan kepada para stakeholders. Berhubung stakeholders saya baru Pak Suami, maka saya tanyakanlah kepada Pak Suami istri apa sebenarnya yang beliau harapkan dari diri istrinya ini. Jawabannya adalah PIJIT, wkwkwkwk :P Hanya itu. Memang banyak yang mengakui kalau pijitan saya enak, wkwkwk. Eitss, disclaimer yang saya pijit semua perempuan ya… kecuali suami dan bapak saya. Kadang kalo sedang iseng ada teman yang kecapekan ato nggak enak badan, suka saya pijit meski sebentar. Nah, balik lagi ke harapan suami. Masa’ cuma berharap pijitan dari istri? Saya pun berusaha mengorek-ngorek harapan lainnya. Karena saya sedang dinas di luar kota, ya sudahlah ya… sulit sekali untuk mencari tahu apa saja sebenarnya harapan beliau pada saya. Berhari-hari memaksa via wa pun jawabannya masih berupa kode-kodean yang kemudian saya terjemahkan di dalam tabel indikator di bawah ini (untuk peran saya sebagai istri).

Nah, indikator yang lain… Itu semua merupakan hasil perenungan saya. Dan Voilaaa, ternyata indikator ini sangat sejalan dengan target-target saya untuk tahun 2017. Jadi lebih terbayang lah perbaikan apa yang harus saya lakukan di 2017 J

Yang utama tentu saja, lebih sering jadi Tukang Pijit Pak Suami, hehehe :D
Gakpapa lah ya, kalau ada penganut paham "istri idaman itu yang pinter masak buat suami", saya jadi penganut paham istri idaman suami saya saja, "Istri idaman itu yang rajin mijitin suami" hehe :P
Saya jadi nggak sakit hati gara-gara saya nggak pinter masak, hehe.
Nah, kalo kamu yang juga istri, yuk cari tau seperti apa istri idaman versi suamimu :)


CHECKLIST INDIKATOR PROFESIONALISME PEREMPUAN

NB: checklist ini diisi mingguan :)

Friday, May 19, 2017

Belajar Menulis Lagi :)

Hello world!!

Ada yang kangen sama tulisan saya? Nggak ada kayaknya ya. Yang ada malah pada nanya, "Emang situ nulis apa?" *nyengir* :D

Oke, kali ini saya mau cerita kalau sebelumnya saya nggak lulus di Kelas Matrikulasi Institut Ibu Profesional (MIIP) karena hanya mengumpulkan sebagian PR saja dari sejumlah PR yang diberikan, hehe... Kebiasaan buruk banget ini mah, nggak tuntas kalau mengerjakan sesuatu. Oleh karena itu, kemudian saya memutuskan untuk ikut kelas Remedial MIIP. Berusaha menuntaskan sesuatu yang sudah saya mulai. Semoga kali ini bisa konsisten.

Seperti pada kelas MIIP, di kelas remedial ini pun Pe-eR mingguannya juga diberi nama NICE HOMEWORK (NHW). Pekan ini temanya adalah Adab Menuntut Ilmu. Seru lho belajar di MIIP. Sebenarnya sederhana saja yang kita pelajari tapi manfaat banget, insyaAllah. Tapi ya gituuuu deeeh. NHW-nya bikin mikiiiir *dengan nada Cak Lontong*

Dari pertanyaan pertama aja ya, bingung mau jawab apa. Ok, here we go!

1.    Tentukan satu jurusan ilmu yang akan Anda tekuni di universitas kehidupan ini.
Di kelas MIIP (sebelum remedial) saya menjawab ilmu konsisten. Tapi setelah dipikir lagi, sepertinya jawaban saya berubah. Saya ingin menekuni ilmu di bidang penulisan. Entah kenapa tiba-tiba ingat dengan cinta pertama, dunia literasi.

2. Alasan terkuat apa yang anda miliki sehingga ingin memiliki ilmu tersebut.
Selain karena alasan cinta pertama, saya sangat ingin memiliki ilmu tersebut karena saya merasa itu dunia saya. Walaupun yaaa.... walaupun... saya udah jarang nulis lagi. Tapi saya merasa menjadi diri saya sendiri saat saya bisa menulis, yang tidak sekadar menulis tentunya. Menulis yang bisa memberikan manfaat untuk orang lain. Itulah kenapa saya merasa perlu mempelajari ilmu di bidang penulisan. Agar tulisan saya lebih memberikan manfaat kepada orang lain, baik karena kontennya maupun juga karena cara menulisnya.


3.    Bagaimana strategi menuntut ilmu yang akan anda rencanakan di bidang tersebut.
Strateginya apa ya.... Yang pasti berlatih menulis (lagi) di blog. Me-review  materi-materi yang pernah saya ikuti sebelumnya di beberapa kelas penulisan. Saya itu bisa dibilang rajin ikut kelas online tapi jarang praktiknya. Tobat deh... Semoga momen Ramadhan ini bisa membuat saya makin rajin, hehe... Bukan apa-apa tapi saat Ramadhan, kerjaan kantor lumayan berkurang load-nya, mungkin...saya bisa berlatih menulis untuk urusan di kantor? Hmm... kita coba yaa... Oiya... tidak lupa juga harus banyak membaca :D

4.    Berkaitan dengan adab menuntut ilmu, perubahan sikap apa saja yang anda perbaiki dalam proses mencari ilmu tersebut.
Ini pertanyaan termudah, tapi menjalankannya paling susah.
a. Ikhlas

b. Bersungguh-sungguh
c. Konsisten (belajar dan berlatih).
Udah itu aja. Dikit kalimatnya tapi pastiiiii buanyaaaakkk yang harus dilakukan. Semangaaatttt!!!! :)

Mudahkan, Ya Allah....

Sampai jumpa di tulisan saya berikutnya :)


Tuesday, September 13, 2016

The Gogons: James & The Incredible Incidents


Judul                       : The Gogons, James & The Incredible Incidents
No. ISBN                 : 979-22-1977-3
Penulis                     : Tere Liye
Penerbit                  : Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit           : 2006 
Halaman                  : 287 

***
Holaaaaaa, i'm coming back! Kali ini saya mau meresensi buku pertama dari salah satu novel berserinya Tere Liye, The Gogons: James & The Incredible Incidents. Tidak seperti buku-buku Tere Liye lainnya yang membanjiri toko buku karena selalu cetak ulang, buku ini mungkin hanya satu kali cetak karena sudah tidak beredar lagi di toko buku manapun. Kalau mau baca mungkin bisa cari second-nya atau seperti saya, yang baca karena pinjam, hehehe :D 

Buku ini bergenre novel metropop. Secara sederhana, novel metropop adalah novel-novel bertema kehidupan masyarakat urban atau masyarakat kota besar. Kalau pada suka baca novel chicklit, novel metropop ini bisa dibilang masih tetanggaan dengan chicklit. Bedanya, chicklit ditulis oleh penulis asing, sedangkan metropop ditulis oleh penulis lokal. Saya pribadi termasuk jarang baca novel jenis begini, baik chicklit maupun metropop. Faktor apalagi yang membuat saya membaca novel beginian kalau bukan karena penulisnyaaa, hahayyy :D Yes, saya memang doyan banget baca novel-novelnya Tere Liye. Alasan saya suka banget sama novel Tere Liye adalah karena di setiap novel yang ditulisnya pasti ada minimal satu prinsip atau satu makna yang ingin ditanamkan Tere Liye kepada pembacanya. 

Okeee, langsung aja kita bedah-bedah novel ini yaaaa. Awalnya saya bingung ngapalin tokohnya yang lumayan banyak. Padahal kan ngga wajib dihapal yak?!
Mereka awalnya berenam! Dipertemukan tak sengaja oleh takdir huruf pertama. Bertabiat laksana bumi dan langit. Berperangai bagai saputan pelangi. Bersahabat sejak sekujur tubuh kotor bau keringat, digebuki senior kampus kala Ospek enam tahun silam.
Ada James (tentu!), Ari, Azhar, Adi, Diar, dan Dito. Aslinya nama mereka semua berawalan A. Mereka menamai diri mereka The Gogons. Keseluruhan cerita menggambarkan persahabatan The Gogons dengan masalah mereka masing-masing. Masalah yang bisa dibilang tidak biasa. 

Bermula dari mimpi samar James dalam tidurnya berlanjut dengan kebahagiaan The Gogons atas pernikahan salah satu anggota geng mereka, Adi dengan Made. Kekompakan dan keseruan persahabatan ala The Gogons pun mewarnai kisah mereka. Sampai suatu ketika, James yang playboy tak sengaja bertemu dengan teman masa kecilnya. Setelah itu kejadian demi kejadian tak mengenakkan menimpa The Gogons. Diar dengan goresan luka masa lalu dan kesukaannya pada yang manis-manis yang ternyata kemudian membawanya pergi dari The Gogons. Dito, anak Betawi yang jatuh cinta pada Savanna, gadis bule asal Australia. Cinta yang sedemikian besar terhadap Savanna membuatnya melupakan teman-temannya dan membuatnya terpenjara. Azhar yang akhirnya mengungkapkan cintanya pada Dahlia setelah kejadian yang hampir merenggut nyawanya. Adi yang ternyata diam-diam memiliki masalah serius dengan pernikahannya. Tak terkecuali Ari yang ternyata merasa sangat terpukul dengan semua rentetan kejadian yang menimpa The Gogons hingga mengalami hal yang tidak pernah mereka bayangkan. Serta James yang resah hingga memutuskan mencari jejak teman masa kecilnya. Uniknya masalah yang menimpa The Gogons ini saling berkaitan satu sama lain, mengantarkan mereka pada jalan yang selama ini dicari James.

Membaca halaman demi halaman novel ini membuat saya deg-degan sendiri saking luar biasanya masalah-masalah The Gogons. Genre novel metropop yang identik dengan cerita yang ringan, tidak berlaku untuk novel satu ini. Kisah persahabatan The Gogons sangat menyentuh. Bahasa yang dipakai Tere Liye membuat saya ikut berada di antara keseharian The Gogons. Celetukan, candaan, dan kekonyolan yang khas Sahabat banget. Jadi membuat saya ingin bertemu dengan sahabat-sahabat sekolah saya dulu :D 

Namun tidak hanya kekonyolan dan keseruan khas Sahabat yang dibahas di sini, ada juga banyak kesedihan yang diceritakan. Yang paling menyedihkan dan tidak terduga adalah perginya salah satu anggota The Gogons. Pikiran saya yang mainstream mengatakan bahwa The Gogons pasti masih akan lengkap berenam sampai akhir seri berikutnya, ternyata tidak demikian. Hiks....

Oiya, bicara tentang makna yang ingin ditanamkan Tere Liye, saya menemukannya di bagian ini.

Pernahkah ada yang bilang kepada kalian bahwa hidup di dunia ini tidak ada yang tidak penting -sekecil apapun kejadian itu? Semua kejadian yang ada membentuk rantai penjelasan yang melingkar, saling melilit. Sayangnya kita baru tahu dan menyadarinya setelah semuanya selesai dan sempurna membentuk lingkaran tersebut. Atau bahkan kita sama sekali tidak mengerti penjelasannya, meskipun keseluruhan kejadian tersebut sudah terangkai lengkap. -hal.50 
Pas banget dengan apa yang sedang saya rasakan pertama kali membaca novel ini. Kadang kita acuh dengan kejadian-kejadian kecil nan remeh, padahal bisa jadi kejadian tersebut menjadi salah satu alasan terjadinya kejadian yang besar dalam hidup kita. Hal tersebut dipertegas pada bagian ending-nya.
James menatap bingung. Ari persis menunjuk wajahnya. Ari menatap teramat dalam. Gerakan merontanya mendadak terhenti. Dia mencengkeram jeruji besi hingga tulang-tulang jemarinya kelihatan. Kemudian berbisik lemah sekali. "James! Lihatlah, demi masa lalumu, kami semua harus mengalami semua ini!" -hal. 285
Hayooo, penasaran ceritanya kan?

Dengan segala kelebihannya, pasti ada juga kekurangannya. Hal yang paling bikin saya males dengan novel ini sebenarnya kisah cinta Azhar-Dahlia yang drama banget seperti kisah cinta kebanyakan. Mungkin karena ekspektasi saya yang begitu tinggi kepada Tere Liye membuat saya berpikir harusnya ceritanya beda nih, hehehehe.... *dasar, pembaca tukang protes!* Tapi kekurangannya sedikit tertutupi dengan cara Tere Liye menggali emosi pembaca melalui dialog hati antara  Azhar dan Dahlia. 

Hal lain yang bikin nggak sreg adalah, "Bang Tere, kapan dimunculin lanjutannya???" Hehe, pengen baca lanjutannya nih. Tetapi nampaknya -menurut tebakan saya- Tere Liye tidak akan membuat lanjutannya sebelum merevisi seri pertama The Gogons. Pertanyaan berikutnya, apakah Tere Liye akan merevisi seri pertama The Gogons? Saya rasa tidak.

Overall, 
saya rasa novel ini cukup layak untuk dibaca. Kalau ada kesempatan membacanya, sok atuh dibaca :) Buku ini lumayan menghilangkan penat setelah lama berpikir di kantor maupun di sekolah. Empat dari lima bintang saya persembahkan untuk The Gogons: James & The Incredible Incidents. Sebelum membaca, saya ucapkan selamat penasaran dan selamat berburu bukunya! :D

Saturday, January 16, 2016

Tentang Pilihan Kata Kita

Belakangan ini saya belajar banyak sekali tentang bagaimana memilih kata...

Beberapa waktu yang lalu, saya sempat posting di sini dan menuliskan bahwa jangan-jangan saya menulis di blog itu cuma sekali, yaitu tiap tahun baru. Dan -hampir- benarlah tulisan saya itu. Setahun kemarin hanya 2x menulis di blog. Itu pun tulisan yang menurut saya kurang bermutu.

Bulan lalu, saya juga sempat bercerita kepada salah seorang guru saya tentang mimpi punya karyawan. Saya khawatir tidak bisa membayar jika punya karyawan. Lalu perkataan saya diralat, "Coba ganti kalimatnya jadi begini : Saya khawatir rekening saya berlimpah untuk menggaji karyawan." Efeknya, memang beda! Selain itu saya juga sempat cerita dengan beliau tentang beberapa mimpi yang akhirnya jadi kenyataan padahal saya sudah lupa kalau saya pernah menuliskannya. Beliau pun bercerita hal yang sama, mimpi yang kemudian terwujud setelah beberapa tahun dituliskan dan tidak sengaja dilupakan.

Hari ini rupanya saya belajar lagi hal yang sama. Seharian ikut training dan mendapat cerita yang sama. Mimpi yang pernah dituliskan, kemudian terwujud di saat sudah sibuk berusaha sampai-sampai terlupa mimpinya.

Ya... kalau ada yang bilang bahwa kata-kata itu adalah doa, sangat benar menurut saya. Apa yang kita ucapkan, apa yang kita tuliskan itu adalah doa. Tanpa sadar, memori kita menyimpannya lalu pikiran, tangan, dan kaki kita diperintahnya memanggil sebab-sebab dikabulkannya doa yang tidak kita sadari itu. Tak lepas dari itu, campur tangan Allah pasti ada di sana. Allah mendengarkan doa kita, lewat kata. Kata yang kita ucap, juga kata yang kita tulis. Kemudian, Allah jadikan doa-tanpa-sadar-kita tadi sebagai hadiah tak terduga.

Hari ini, secara tak sengaja saya mengambil salah satu majalah koleksi saya secara acak. Majalah Tarbawi. Kangen sekali dengan majalah ini, sudah lama tidak terbit lagi. Temanya "Di Balik Kebiasaan Kita Memilih Kata".

Ada salah satu kisah yang diceritakan di situ...

Ketika istri Harun Arrasyid mengeluhkan bahwa suaminya nampak lebih menyayangi salah satu anaknya dibanding anaknya yang lain. Lalu untuk menjawab keluhan istrinya, Harun Arrasyid memanggil salah satu anaknya, Al Amin. Ketika Al Amin) datang, Harun Arrasyid menunjuk beberapa siwak -batang kecil yang sunnah dipakai membersihkan gigi- yang telah disiapkan sebelumnya sambil menanyakan, "Wahai Anakku, apakah ini?" Anaknya kemudian menjawab, 'Masawik' yang artinya adalah kata jamak dari kata siwak.
Setelah itu Harun Arrasyid memanggil anaknya yang lain, Al Ma'mun. Setelah sampai di depannya, ia pun menanyakan hal yang sama, "Wahai Anakku, apakah ini?" Maka Al Ma'mun menjawab, "Itu adalah lawan kata dari mahasinik, lawan dari kebaikan-kebaikan engkau."
Al Ma'mun tidak menjawab dengan kata 'masawik', karena selain berarti jamak dari kata siwak, masawik juga berarti 'keburukan-keburukanmu'.Al Ma'mun menjawab dengan sangat halus dan sopan, ia tidak mau memilih kata yang punya makna ganda dan tidak menyenangkan untuk didengar. Ia dengan cerdas berhasil menemukan kata tidak langsung dan menyusunnya di dalam kalimat yang halus,  "Itu adalah lawan kata dari mahasinik, lawan dari kebaikan-kebaikan engkau."
Melihat kejadian itu, istri Harun Arrasyid pun mengerti kenapa suaminya sangat menyayangi Al Ma'mun. 

Pilihan kata kita, seperti doa-tanpa-sadar yang kadang kita ungkap melalui ucapan ataupun tulisan. Pilihan kata yang baik, selain memberikan efek yang positif untuk yang mendengar juga memberikan efek yang positif untuk yang mengucap. Kalau dulu sempat heboh benar tidaknya penelitian Masaru Emoto tentang pengaruh kata-kata baik dan kata-kata buruk terhadap air (air digambarkan sebagai manusia karena 70% tubuh manusia terdiri dari air, lengkapnya silakan googling sendiri), meski saya tidak punya alasan yang bisa dibuktikan secara ilmiah tapi saya rasa penelitian itu bisa jadi ada benarnya. Kata-kata yang baik akan menarik dan mengumpulkan energi-energi positif di sekitarnya sehingga kata-kata baik yang kita gunakan tadi menjadi terwujud. Dan begitu pula sebaliknya, kata-kata buruk akan menarik dan mengumpulkan energi-energi negatif di sekitarnya dan membuat pilihan kata kita tadi juga terwujud meski sebenarnya hal itu sangat tidak kita inginkan.

Tidak percaya? Silakan coba saja, sebaiknya coba dengan kata-kata baik ya :D

Saturday, October 3, 2015

Markinul

Hello...helloo... Apa kabar dunia???
Demi mematahkan dugaan saya pada postingan sebelumnya (jangan-jangan saya nulis blog hanya setahun sekali, yaitu tiap tahun baru), maka saya menguatkan niat dan tekad untuk menulis kembali di blog ini :)
Semenjak jarang posting tulisan di blog, saya juga jarang menulis di laptop, diary, notes, bahkan jarang juga menulis catatan materi kuliah. Jangankan menulis yang panjang, menulis sekadar ucapan selamat di kado yang saya kirim saja, ampun malesnya! Padahal semenjak berhenti menulis itu, saya merasakan kehilangan manfaat yang sangat banyak. Jadi dililit banyak kebiasaan negatif. Salah satunya adalah saya jadi gampang banyak pikiran, tapi yang dipikirkan nggak selesai-selesai dikerjakan karena memang hanya dipikirkan saja. Salah duanya, gampang merasa bosan. Salah tiganya, rasa percaya diri saya menurun drastis. Salah empat dan seterusnya, masih ada lagi. Seumpama itu jumlah soal ujian, berapapun soal ujiannya jawaban saya selalu salah semua.

Untuk itu... Bismillah...
MARKINUL! Mari kita nulis!!!

Saat ini, bagi saya...
Menulis adalah belajar,
Menulis adalah introspeksi, dan
Menulis adalah self healing.
Menghalau penyakit-penyakit psikosomatis yang mudah datang serta kebiasaan-kebiasaan negatif yang banyak bersarang.

Semoga kelak suatu saat ini Allah mengabulkan doa saya, agar menjadikan bagi saya...
Menulis adalah menginspirasi.

Mohon dimaafkan dan dimaklumi ya kalau tulisan di blog ini mungkin masih agak aneh atau acak adul.

Oh ya, untuk mendukung program markinul ini, saya sudah menyiapkan beberapa amunisi. Ini dia....

Ada dua macam amunisi sebenarnya. Yang di gambar ini adalah amunisi pertama berupa buku tulis, notes, diary, dan sebangsanya. Fungsinya buat apa? Buat latihan saya menuangkan pikiran. Jadi pikiran yang banyak itu ditulis di buku-buku ini supaya selesai dengan caranya masing-masing. Ada buku diary untuk menulis cerita sehari-hari yang cukup dikonsumsi diri sendiri, ada buku catatan keuangan keluarga (selama ini saya pakai aplikasi di android saja, kalau bulannya sudah lewat langsung hapus) biar ada jejaknya kalau suatu saat dibutuhkan, ada buku latihan Bahasa Arab dan buku latihan Bahasa Inggris untuk tempat mengerjakan soal-soal latihan belajar bahasa, ada dua buku pencatatan keuangan untuk dua toko onlen saya (yang paling tebal, biar nggak cepat habis), ada buku kumpulan quotes atau kata-kata mutiara dari Al Quran, hadis, dan sumber lain yang menurut saya ngena banget, ada juga notes untuk mencatat segala rupa, ada buku khusus untuk meringkas kajian-kajian yang saya ikuti, ada buku stok barang dagangan, macem-macem lah pokoknya. Nah, kalau saya sudah rajin menuangkan pikiran ke buku-buku itu, harapannya jadi lebih mudah menuangkan gagasan di blog ini.
Amunisi yang kedua... adalah buku-buku bacaan saya. Gambarnya kapan-kapan aja ya kalo saya buat posting tentang perpustakaan di rumah. Sejujurnya, sudah lama sekali antusiasme saya membaca buku menurun. Kalau dulu, satu bulan bisa melahap 5-10 buku, sekarang paling-paling hanya 1 buku dalam 1 bulan, itupun selalu dan selalu berupa novel. Majalah bulanan langganan pun, hanya dibaca bagian tertentu. Banyak buku bacaan yang saya beli, belum saya buka plastiknya dalam beberapa bulan, bahkan ada buku yang lebih dari setahun masih setia dengan segel plastiknya nangkring di rak buku saya.
Padahal ya... padahal nih... kalau beberapa waktu kemudian saya menyelesaikan baca buku tersebut, pasti ada sesal berkepanjangan, "Kok bisa-bisanya... buku ini... berbulan-bulan (atau bertahun-tahun) ada di rak bukuku, hampir setiap hari kulihat meski cuma sekilas, baru sekarang aku tahu isinya sebagus ini. Tahu gitu, kenapa enggak kubaca langsung setelah kubeli?!" Ya mana ada sih, bisa menilai bagus enggaknya buku tanpa membacanya... Bisa dibilang ini arti harfiahnya dari pepatah "Don't Judge A Book by Its Cover!"

Oke, semoga pemanasannya cukup. Markinul!

*****

Depok, suatu malam menyambut kegalauan skripsi.
*Jadi makin tahu kan kenapa mulai mau nulis lagi?